6 Wisata Seni Budaya dan Tradisi Kabupaten Tegal

Berupaya untuk memperkenalkan sekaligus memasyarakatkan Seni Budaya dan Religi Kabupaten Tegal, Admin Sanggar Model merangkum beberapa informasi yang berkaitan dengan tradisi masyarakat di wilayah yang terkenal dengan istilah Galawi. Kegiatan-kegiatan masyarakat ini berlangsung turun temurun hingga akhirnya mendapat pengakuan dari pemerintah daerah, bahkan beberapa pihak swasta punturut andil menjadi sponsor pelaksanaannya. Berikut ini kilasan tentang Wisata Seni Budaya dan Religi di Kabupaten Tegal

1. Ruwat Bumi Guci

Sebagai bentuk ungkapan syukur atas kemakmuran yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa dan juga memohon keselamatan dari segala macam mara bahaya, masyarakat Guci dan sekitarnya (Desa Rembul dan Desa Pekandangan), di lokasi Obyek Wisata Guci, mengadakan upacara tradisional tahunan setiap bulan Muharram (Suro).


Prosesi dimulai dengan arak-arakan Gunungan atau Sesajian beraneka macam hasil panen dan dilanjutkan dengan ritual memandikan Kambing Kendit (kambing khusus yang berwarna hitam dengan lingkar putih di perutnya). Kemudian dilanjutkan dengan menaburkan kembang setaman pada lokasi pemandian di sekitar Guci (Pancuran 13). Ritual ini menjadi simbol kasih sayang terhadap makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Sedangkan kambingnya sendiri merupakan simbol dari kehidupan yang akan terus berputar. Usai prosesi memandikan kambing, dilaksanakan upacara dan pembacaan riwayat Guci dengan menggunakan Bahasa Tegalan. Beberapa sambutan dari pihak penyelenggara dan Pemerintah daerah pun disampaikan sebagai bentuk dukungan untuk melestarikan tradisi Ruwat Bumi Guci. Kemudian diakhiri dengan rebutan gunungan, do’a bersama, dan hiburan yang biasanya diisi dengan tarian khas Tegal.

Menurut Ki Enthus Susmono, dalang kondang tingkat nasional yang berasal dari Tegal, Tradisi Ruwat Bumi di Guci bukanlah tradisi syirik, melainkan tradisi untuk merawat bumi. Masyarakat Guci sendiri meyakini jika terjadi hujan deras saat prosesi adat acara Ruwat Bumi Guci berlangsung, merupakan bentuk keberkahan dari Tuhan Yang Maha Esa kepada masyarakat Kabupaten Tegal khususnya warga Guci.

2. Penjamasan Makam Sunan Amangkurat Agung

Tradisi upacara adat Pejamasan ini diselenggarakan setiap bulan Suro dengan ritual membersihkan benda pusaka dan tirai penutup makam Sunan Amangkurat Agung. Menurut sejarah, Sunan Amangkurat Agung merupakan seorang tokoh penting pendiri Kabupaten Tegal yang dikenal sebagai keturunan dari Raja Mataram Sultan Agung Hanyakrakusuma.


Prosesi Jamasan sendiri diawali dengan tahlil, zikir, membacakan sahadat, dan sholawat serta mendoakan Amangkurat I. Doa dalam Penjamasan Makam Sunan Amangkurat Agung ditujukan agar para leluhur diampuni dosanya dan diberikan tempat yang layak di sisi Allah Swt. Usai kegiatan doa bersama, dilanjutkan dengan penggantian kelambu, yang kemudian kelambu lama digabungkan bersama dengan kelambu raja-raja Mataram lainnya dilarung ke Pantai Selatan.

Pengagem Sasono Wiloko Kraton Surakarta, Gusti Kajeng Ratu Wandansari, M.Pd meminta kepada keturunan Mataram dan masyarakat sekitar untuk melestarikan tradisi Jamasan di Makam Sultan Amangkurat 1 di Tegalwangi Desa Pesarean, Kecamatan Adiwerna, Kabupaten Tegal.

3. Sedekah Bumi Cacaban

Kegiatan Sedekah Bumi Cacaban diselenggarakan oleh masyarakat setempat dengan segenap sumber daya yang dimiliki bekerja sama dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Tegal sebagai fasilitator dan pendukung. Sedekah Bumi Waduk Cacaban merupakan bentuk partisipasi masyarakat dalam rangka melestarikan budaya daerah dan juga sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT atas hasil bumi yang diperoleh.

Kegiatan ini ditujukan untuk menarik pengunjung sekaligus dijadikan sebagai momen penting pembelajaran bagi peningkatan kesadaran masyarakat setempat dalam menyambut pengunjung serta menjaga kelestarian alam Obyek Wisata Cacaban.

4. Festival Jamu dan Kuliner

Kabupaten Tegal merupakan salah satu peserta tetap Festival Jamu dan Kuliner yang diadakan tiap tahun untuk bersaing dengan Kota / Kabupaten se-Jawa Tengah. Kabupaten Tegal senantiasa menampilkan stan terbaik dan menawarkan produk-produk jamu serta kuliner unggulan. Produk jamu Kabupaten Tegal didukung dengan berbagai jenis tanaman dan bahan yang contohnya dapat dilihat di lokasi Wisata Kesehatan Jamu (WKJ) Danawarih.

Festival Jamu dan Kuliner sendiri selalu meriah dan menjadi salah satu acara unggulan yang menampilkan kearifan lokal berupa cita rasa dan ciri khas tiap daerahnya. Bagi pengunjung yang mengikuti kegiatan ini dapat merasakan jamu dan kuliner yang memiliki karakteristik kuat dari berbagai macam daerah di Jawa Tengah sekaligus menikmati berbagai macam hiburan yang semakin memeriahkan acara.

5. Ruwat Bumi Purwahamba Indah

Ruwat Bumi Purwahamba Indah merupakan kegiatan rutin tahunan yang dilaksanakan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Tegal dengan bentuk upacara adat yang diisi berbagai jenis hiburan. Tradisi ini dilaksanakan pagi, siang, dan malam harinya diadakan pagelaran wayang semalam suntuk.

Keunikan dari tradisi Ruwatan di Bumi Purwahamba Indaha dalah digelarnya festival "Grebeg Klapa Ijo" yang dapat diikuti oleh masyarakat Kabupaten Tegal. Tujuan tradisi ruwatan sebagai perwujudan syukur kepada Allah SWT sekaligus memohon agar warga terhindar dari berbagai macam bencana. Kegiatan ini merupakan wujud partisipasi warga masyarakat dalam rangka melestarikan budaya daerah sekaligus sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT atas segala rejeki yang diperoleh dari hasil usaha khususnya bagi para pedagang di sekitar Obyek Wisata Purwahamba Indah

Ruwatan sendiri dapat dikatakan sebagai bentuk tradisi masyarakat yang sudah ada sejak lama sebelum kedatangan agama ke tanah Jawa. Kata Ruwat dalam bahasa sansekerta dapat diartikan sebagai pembebasan, penyucian. Kemudian kata yang hampir mirip, yaitu Rawat atau Reksa diartikan sebagai memelihara.

6. Rebo Wekasan

Rebo Wekasan atau bisa juga disebut Rebo Pungkasan merupakan salah satu tradisi masyarakat yang dilaksanakan pada hari Rabu terakhir di bulan Safar kalender lunar versi Jawa dengan tujuan untuk 'talak bala' (menolak bencana). Kegiatan yang dilakukan berkisar pada berdoa, Shalat Sunnah, bersedekah. Selain itu ada juga kegiatan mencukur beberapa helai rambut dan membuat bubur merah dan putih yang kemudian dibagikan kepada tetangga.

Di Kabupaten Tegal tradisi Rebo Wekasan dilaksanakan di dua tempat, yaitu Kecamatan Suradadi dan Kecamatan Lebaksiu. Meskipun pada dasarnya mempunyai tujuan sama, tetapi ritual kegiatan yang dilaksanakan berbeda.

Haul Desa Suradadi Saat Rebo Wekasan

Di Desa Suradadi, yang terletak di jalur antara Tegal dan Pemalang sekitar 17 kilometer timur Kota Tegal, tradisi Rebo Wekasan dilaksanakan dengan cara menyelenggarakan Haul sebagai momentum mengenang kembali para ulama yang telah berjasa menyebarkan Islam di daerah tersebut.

Haul di desa Suradadi dalam rangka Rebo Wekasan, telah dilaksanakan sejak tahun 1961, tepatnya pada tanggal 13 Agustus (27 Safar 1381 H). Biasanya dilaksanakan di pemakaman umum sebelah selatan Masjid Jami Al-Kautsar dari Pasar Suradadi ke arah Selatan. Pada saat Haul, masyarakat Suradadi dan sekitarnya akan berkumpul di pemakaman tersebut dan membacakan doa-doa untuk para ulama yang telah meninggal. Setiap tahun, acara Haul tersebut selalu dipenuhi para pengunjung yang jumlahnya bisa mencapai lebih dari 20.000orang.

Rebo Wekasan di Lebaksiu.

Lebaksiu adalah salah satu kecamatan yang ada di kabupaten Tegal dan terletak di jalur Tegal- Guci. Hingga saat ini belum ada sumber yang menyebutkan dengan jelas tentang sejarah dari peringatan Rebo Wekasan di Lebaksiu. Sehingga cerita Mbah Panggun-lah, tokoh yang berjasa dalam penyebaran agama Islam di Lebaksiu, dianggap paling kuat.

Makam Mbah Panggung berada di puncak Bukit Sitanjung yang terletak diantara dataran-dataran tinggi di Lebaksiu. Oleh karena itu, pusat acara Rebo Wekasan di Lebaksiu berada disekitar bukit tersebut, bahkan hingga mencapai pinggiran jalan raya.

Rebo Wekasan di Lebaksiu didominasi dengan kegiatan jual-beli dengan jumlah pedagang dari berbagai kota yang membuka lapaknya setengah bulan sebelum pelaksanaan dengan jumlah pengunjung ribuan. Mulai dari makanan, baju, sepatu, tas, mainan anak-anak, aksesoris, diperjualbelikan pada even ini. Motif pengunjung yang datang tidak hanya sekedar berkeliling melihat dagangan, atau jalan-jalan menaiki dan menikmati pemandangan Bukit Sitanjung, namun juga ada yang sengaja datang berziarah ke makam Mbah Panggung.

Mitos pada masyarakat Lebaksiu, saat Rebo Wekasan di setiap tahunnya, akan ada pengunjung yang meninggal karena dijadikan tumbal. Terlepas benar atau tidak, sebagian sebagian masyarakat masih percaya ketika Rebo Wekasan, bakal ada pengunjung yang meninggal dengan berbagai penyebab, misalnya hanyut di sungai, terjatuh, hilang, dan lain-lain. Meskipun demikia, Rebo Wekasan tetap menjadi sebuah event yang ditunggu oleh masyarakat Lebaksiu.

NB: Sumber Gambar diperoleh dari Disparbud Kabupaen Tegal

Pengertian dan Unsur Komposisi Tari Kontemporer

Sanggar Model - Pengetahuan komposisi tari adalah pengetahuan yang berhubungan dengan cara memilih dan menata gerakan menjadi sebuah karya tari. Sedangkan komposisi tari itu sendiri adalah seni membuat/merancang struktur ataupun alur sehingga menjadi suatu pola gerakan-gerakan. Istilah komposisi tari bisa juga berarti navigasi atau koneksi atas struktur pergerakan.


Hasil atas suatu pola gerakan terstruktur itu disebut pula sebagai koreografi. Orang yang merancang koreografi disebut sebagai koreografer. Komposisi tari terdiri atas beberapa hal berikut:
  1. Bentuk (pose), adalah posisi tubuh sebelum bergerak. Pose terbagi menjadi empat, yaitu terbuka, tertutup, asimetris, dan simetris. Pose gerakan di samping menggambarkan pengembangan gerak melalui penataan ruang, gerak dan waktu.
  2. Gerak sebagai elemen pokok tari. Rudolf Laban pakar tari kreatif menyatakan bahwa gerak merupakan fungsional dari body (gerak bagian kepala, kaki, tangan, badan), space (ruang gerak yang terdiri dari level, jarak, atau tingkatan gerak), time (berhubungan dengan durasi gerak, perubahan sikap, posisi, dan kedudukan), dinamyc (kualitas gerak menyangkut kuat, lemah, elastis dan penekanan gerakan). Perubahan gerak ekuivalen dengan kebutuhan waktu, cepat-lambat, panjang-pendek, dan banyak-sedikit gerakan dilakukan butuh waktu. Tempo gerakan merupakan panjang-pendek, cepat-lama gerakan dilakukan. Waktu dalam tari dimensi dari tempo gerak. Tempo gerak dapat membangun image tari secara keseluruhan dalam bentuk garapan tari atau koreografi tari.
  3. Pola lantai, adalah arah atau garis langkah yang dilalui oleh penari. Pola lantai terbagi menjadi dua, lurus dan lengkung. Ada pula pola lantai yang merupakan perpaduan dari beberapa pola lantai sehingga membentuk sebuah pola lantai baru Penyusunan pola lantai pada tarian bergantung pada kreativitas koreografer atau pencipta tarian. Dalam penyusunan pola lanfai harus memperhatikan unsur ruang, arah, fokus, level, kepadatan, keleluasaan, dan desain.
  4. Arah hadap, merupakan arah posisi tubuh penari. Penari bisa menghadap ke depan, ke arah samping kanan atau kiri atau ke belakang menunduk, dan sebagainya.
  5. Tataran atau level adalah tingkatan.posisi tubuh penari. Terbagi menjadi tiga, yaitu bawah, tengah, dan atas.
  6. Ekspresi atau penjiwaan, merupakan bentuk dari mimik wajah dan gerakan tubuh penari yang dihayati dengan perasaan supaya hasil tarian indah dilihat. Dengan memahami dan membuat komposisi tari gaya kontemporer, berarti kita menata bagian-bagian yang saling berhubungan menjadi bentuk kesatuan yang utuh. Menyusun atau mengomposisi tari memerlukan penekanan unsur tari dengan desain, irama, motivasi, dan ide. Dengan demikian, unsur materi komposisi perlu dihayati dan dimengerti. Metode penyusunan dan pengombinasian berbagai unsur harus dipelajari dan dipraktikkan.
Seperti kita ketahui komposisi tari kontemporer merupakan inovasi dari berbagai macam tarian yang mendapatkan sentuhan modernisasi. Inovasi yang lazim dilakukan pada jenis tari ini terdapat pada musik pengiring, gerakan, dan properti yang digunakan oleh para penari. Jenis tari kontemporer juga mendapat julukan lain tari masa kini oleh masyarakat. Tarian ini juga bisa membuktikan bahwa para seniman senantiasa melakukan usaha dalam mengembangkan hasil keseniannya terutama para seniman tari.

Tari kontemporer adalah tarian yang tidak berpijak pada pola tradisi dan aturan yang sudah baku.Tarian ini merupakan bentuk ekspresi diri yang terkesan lebih bebas meski secara konseptual tetap mempunyai aturan. Contohnya tari-tari karya Bagong Kusudiardjo (Tari Yapong, Tari Wira Pertiwi, dan sebagainya), Tari Cantik (karya Wiwik Widyastuti), Tari Gitek Balen (karya Abdul Rochim), Tari Nandak Ganjen (karya Entong Sukirman), Tari Cak Rina karya Sardono W. Kusumu, Tari Setan bercanda, dan Tari Barong barongan karya I Wayan Dibia.

Contoh Juknis Lomba Mocopat Tingkat SMP Se-Jawa Tengah

Sanggar Model - Sudah menjadi agenda rutin bagi Admin Sanggar Model melatih beberapa peserta didik untuk mengikuti Lomba Mocopat di tiap tahunnya. Oleh karena itu, kami berupaya untuk membagi contoh Petunjuk Teknis Pelaksanaan Lomba Macapat yang salah satunya pernah diikuti binaannya di Tingkat Propinsi Jawa Tengah pada tahun 2011.

Berikut ini Juknis Lomba Mocopat Tingkat SMP Se-Jawa Tengah yang diadakan oleh Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Negeri Semarang (FBS UNNES):

A. Pelaksanaan Lomba

1. Pelaksanaan Lomba Macapat:
  • Hari/tanggal: Minggu,13 November 2011
  • Waktu: pukul 08.30 WIB – selesai
  • Tempat: Ruang Bundar Gedung Dekanat FBS Unnes Lt.2
2. Ketentuan Saat Penampilan:
  • Peserta tampil berdasarkan nomor undian yang akan ditentukan ketika hari pelaksanaan lomba.
  • Setiap peserta menyajikan tembang macapat wajib dan satu tembang macapat pilihan.
  • Peserta tidak diperbolehkan menggunakan pengeras suara dan musik pengiring dalam bentuk apapun.
  • Peserta yang dipanggil sebanyak tiga kali, tetapi tidak menampilkan diri, maka peserta tersebut dianggap gugur.
3. Pakaian: Bebas, rapi, dan sopan.
4. Peserta wajib hadir pukul 07.00 WIB di Gedung B1 106 FBS UNNES untuk mendaftar ulang dan mengambil nomor undi dengan menunjukkan bukti pembayaran/bukti penyetoran bank.
5. Waktu daftar ulang maksimal hingga pukul 08.30 WIB.

B. Persyaratan dan Prosedur Pendaftaran

1. Pendaftaran peserta
  • Tanggal: 10 Oktober – 13 November 2011
  • Waktu: Pukul 08.00 – 14.00 WIB
  • Tempat: Sekretariat Hima Bahasa dan Sastra Jawa, gedung PKM FBS Unnes.
  • Contact Person Nur Hapipah (081803989501), Hesti Kusumaningrum (085729364402)
2. Persyaratan Pendaftaran
  • Peserta lomba adalah siswa SMP/MTs Sederajat se-Jawa Tengah yang dibuktikan dengan fotocopy kartu pelajar.
  • Setiap sekolah mengirimkan maksimal 2 peserta putra dan 2 peserta putri.
  • Mengisi blanko pendaftaran yang disediakan oleh panitia.
  • Kontribusi setiap peserta Rp 50.000,00.
  • Pembayaran via rekening: BNI cabang Semarang, no. rekening 0199903094 atas nama Erwan Jangkung Widyartomo, dan jika sudah mendaftar via rekening harap segera menghubungi Wahyuningsih (085642348768).

C. Fasilitas Peserta

Bagi peserta lomba yang mendaftar, akan mendapat fasilitas sebagai berikut:
  • Snack
  • Makan Siang
  • Setiap peserta mendapatkan sertifikat.
  • Panitia menyediakan sertifikat untuk satu pendamping masing-masing lomba.
  • Piala, sertifikat, dan uang pembinaan bagi pemenang.

D. Materi Lomba Macapat

Setiap peserta lomba nembang macapat wajib menyajikan 2 buah materi, antara lain:
1. Tembang Macapat Wajib: Sekar Macapat Dhandhanggula, Laras Pelog Pathet Nem
2. Tembang Macapat Pilihan:
  • Setiap peserta wajib membuat syair macapat sendiri sesuai tema dan salah satu notasi yang telah ditentukan;
  • Peserta wajib menyerahkan teks macapat pilihan yang sudah dibuat kepada panitia sebanyak 3 (tiga) rangkap;
  • Teks macapat pilihan diserahkan kepada panitia ketika pengkondisian peserta;
  • Tema untuk macapat pilihan adalah “Macapat Minangka Lelandhesan Mbangun Budi Pekerti Siswa”;
  • Notasi tembang macapat yang disediakan oleh panitia yaitu sebagai berikut:
  1. Sekar Macapat Durma, Laras Pelog Pathet Barang
  2. Sekar Macapat Sinom-Grandhel, Laras Pelog Pathet Nem
  3. Sekar Macapat Kinanthi, Laras Slendro Pathet sanga
  4. Sekar Macapat Mijil, Laras Pelog Pathet Barang 

E. Penilaian

Penilaian kualitas sajian tembang macapat didasarkan pada kriteria berikut:
  1. Dasar suara
  2. Teknik
  3. Penjiwaan
Penilaian dewan juri bersifat mutlak, dan tidak dapat diganggu gugat. Hasil penilaian akan disampaikan pada akhir lomba.

F. Kejuaraan dan Penghargaan

Pemenang ditentukan berdasarkan kategori putra dan putri. Masing-masing akan memperoleh penghargaan sebagai berikut:
  1. Juara I memperoleh piala, piagam penghargaan, dan uang pembinaan sebesar Rp1.000.000,00
  2. Juara II memperoleh piala, piagam penghargaan, dan uang pembinaan sebesar Rp750.000,00 
  3. Juara III memperoleh piala, piagam penghargaan, dan uang pembinaan sebesar Rp500.000,00
  4. Juara harapan I,II,III memperoleh piagam penghargaan.

Pengertian dan Jenis Karya Seni Grafis

Sanggar Model - Perkembangan seni rupa kontemporer kini mulai banyak memberikan dampak positif terhadap berbagai kalangan baik bagi orang yang awam terhadap dunia seni rupa hingga seniman-seniman. Salah satunya adalah perkembangan seni kontemporer, yaitu seni grafis yang sangat indah serta menarik untuk dipelajari dan dikuasai.

A. Pengertian Seni Grafis

Seni grafis termasuk bagian dari seni rupa dua dimensi. Istilah grafis diambil dan bahasa Inggris, yaitu graph atau graphic yang berarti membuat tulisan/gambar atau lukisan dengan cara ditoreh atau digores. Seni grafis merupakan cabang seni rupa yang proses pembuatan karyanya menggunakan teknik cetak. Kecuali pada teknik monotype, prosesnya mampu menciptakan salinan karya yang sama dalam jumlah banyak yang disebut dengan proses cetak.

Setiap salinan pada karya seni grafis tersebut dikenal sebagai impression. Setiap hasil cetakan biasanya dianggap sebagai karya seni orisinil, bukan sebuah salinan. Adapun cetakannya diciptakan dari permukaan sebuah bahan yang secara teknis disebut matriks. Matriks yang umum digunakan adalah plat logam, biasanya terbuat dari tembaga atau seng untuk engraving atau etsa batu digunakan untuk litografi dan papan kayu untuk woodcut/cukil kayu. Masih banyak lagi bahan-bahan lainnya yang dapat digunakan dalam karya seni grafis.

B. Jenis Karya Seni Grafis Berdasarkan Teknik

Pembagian jenis seni grafis dilakukan berdasarkan teknik pembuatannya. Bahan dan alat yang diperlukan dalam seni grafis juga beragam, sesuai dengan teknik yang digunakan ragam seni grafis diantaranya sebagai berikut:

1. Cetak Tinggi
Teknik cetak tinggi paling populer yang sering digunakan adalah seni grafis cukilan kayu atau woodcut. Teknik ini pertama kali dikenalkan oleh orang Koptia dari Mesir pada abad ke-14 M. Orang Eropa menggunakan teknik cetak tinggi untuk membuat hiasan pada kain tenun. Seni ini juga sering digunakan sebagai media cetak huruf dan buku. Salah satu tokoh seniman yang memelopori dan berjasa dalam penemuan seni mencetak adalah Johanes Gutenberg yang berasal dari Jerman. Ada juga seniman seni grafis yang menggunakan media teknik cetak tinggi untuk membuat karya, seperti Albrecht Durer, L. Granach, H. Holbein, HB. Grien yang berasal dari Jerman, Kastuhista Hokusai, Ando Hirosige dari Jepang. Tokoh-tokoh seni grafis dari Indonesia yang menggunakan cetak tinggi dalam membuat karya seperti Kaboel, Suadi, Edi Sunaryo, dan Andang Supriadi.

2. Cetak saring (Screen Printing)
Cetak saring (screen printing) adalah karya seni grafis yang proses pembuatannya melalui tahapan pembuatan cetakan dan bahan screen atau kain yang dilapisi bahan peka cahaya. Screen lalu ditutup film dan dilakukan penyinaran. Kemudian screen dicuci dan terbentuklah cetakan berlubang (saring) sesuai dengan filmnya. Cat dituangkan di atas screen dan dirakel sehingga membentuk gambar sesuai dengan cetakannya. Teknik cetak saring menggunakan bahan afdruk seperti cromatine, ulano, cat sablon, dan film. Adapun alat yang biasa digunakan pada cetak saring adalah screen, rakel, dan meja sablon.

Cetak saring merupakan salah satu teknik mencetak yang umum dikenal dengan nama sablon. Teknik yang digunakan dalam mencetak dengan menggunakan cetakan yang sering dibuat dari kasa atau screen dan biasa dipasang dalam kerangka. Kaca atau screen mempunyai sifat elastis, lentur, dan halus. Cetak saring pada umumnya sering berfungsi untuk membuat spanduk, poster, dan kaos. Screen yang sering digunakan untuk menyablon sangat banyak. Hal itu bisa dilihat dari segi kualitasnya karena mempunyai sifat-sifat yang berbeda. Dalam menentukan perbedaan screen, digunakan tipe screen huruf "T". Beberapa contoh tipe screen yang sering digunakan untuk menyablon, diantaranya sebagai berikut.

  1. T 55, merupakan tipe screen yang mempunyai sifat banyak meloloskan tinta karena mempunyai pori-pori yang besar. Tipe ini berguna untuk mencetak gambar pada handuk atau karung gula yang mempunyai permukaan kasar.
  2. T 90, merupakan tipe screen yang mempunyai pori-pori yang lumayan rapat. Tipe ini mempunyai banyak fungsi untuk mencetak kaos dan spanduk.
  3. T 120, merupakan tipe screen yang mempunyai pori-pori lebih rapat. Tipe ini biasanya berguna untuk mencetak permukaan kayu lapis, kertas karton, dan kulit.
  4. T 150, merupakan tipe screen yang sering difungsikan untuk mencetak pada permukaan bahan serat atau fiber, formika, dan imitasi.

Seniman seni grafis yang sering menggunakan teknik cetak saring dalam menghasilkan karya seni, antara lain Josef Albers, Chuck Close, Ralston Crawford, Robert Indiana, Roy Lichtenstein, Julian Opie, Robert Rauschenberg, Bridget Riley, Edward Ruscha, dan Andy Warhol.

3. Cetak Dalam (Intaglio Print)
Cetak dalam (intaglio print) adalah karya seni grafis yang dibuat dengan cetakan dari bahan plat aluminium yang ditoreh dengan alat tajam sehingga membentuk goresan yang dalam. Tinta kemudian dituangkan pada goresan dalam tersebut dan di atasnya diletakkan kertas yang sudah dibasahi air. Tinta akan melekat pada kertas dan terbentuklah gambar yang sesuai dengan cetakan.
Teknik cetak dalam dapat menggunakan bahan aluminium, kertas, dan tinta. Adapun alat yang digunakan dalam teknik ini adalah paku dan besi runcing. Seni grafis cetak dalam dibagi menjadi beberapa bentuk, yaitu sebagai berikut:

  • Engraving, merupakan teknik yang dikembangkan di Jerman pada tahun 1430. Engraving berasal dart ukiran halus yang sering digunakan oleh tukang emas untuk melakukan dekorasi pada karya sent mereka. Dalam melakukan teknik engraving, seseorang atau seniman haws memiliki keterampilan, karena selalu menggunakan alat yang tergolong rumit, yaitu burin. Burin berfungsi untuk mengukir logam. Cara menggunakan engraving pada karya seni, yaitu seluruh permukaan plat logam diberi tinta. Lalu, tinta dibersihkan dari permukaan hingga yang tertinggal hanya tinta yang berada digaris yang diukir. Setelah itu, plat logam diletakkan pada alat pres yang mempunyai tekanan tinggi bersama dengan lembaran kertas yang telah dibasahi untuk dilunakan. Selanjutnya menggunakan kertas untuk mengambil tinta dan garis engraving pada bagian yang diukir dan menghasilkan karya cetak yang berkualitas baik.
  • Etsa atau Etching, adalah teknik cetak yang menggunakan perangkat media cetak yang berwujud lempengan tembaga. Dalam pembuatan karya seperti klise yang mengacu pada cetakan dilakukan dengan cara menggunakan larutan asam nitrat atau HNO3 yang mempunyai sifat korosit terhadap tembaga. Penemu teknik Etsa atau Etching adalah Daniel Hopfer (1470-1536). Dia berasal dart Augsburg, Jerman dan mendekorasi baju besinya menggunakan teknik ini. Jika teknik engraving membutuhkan keterampilan khusus dalam pertukangan logam, Etsa lebih mudah dipelajari bagi seniman yang suka menggambar.
  • Mezzotint, merupakan salah satu teknik cetak dengan menggunakan plat logam yang lebih dahulu dibuat secara kasar dan merata. Gambar dibuat dengan mengerok halus mengasarkan bagian permukaan logam untuk membuat efek gelap menjadi terang. Alat yang digunakan untuk teknik Mezzotint, yaitu rocker. Metode mezzotint pertama kali digunakan oleh Ludwig von Siegen (1609-1680). Proses cetak seperti ini dipakai secara mendalam di Inggris untuk membuat ulang foto dan lukisan mulai pertengahan abad ke-18 M.
  • Drypoint, adalah salah satu variasi dari engraving. Proses pembuatan teknik drypoint adalah dengan goresan langsung menggunakan alat yang runcing. Goresan pada teknik drypoint akan meninggalkan kesan kasar pada tepi garis. Kesan ini memberi ciri khas pada kualitas garis yang lunak dan kadang berkesan kabur. Drypoint hanya berfungsi untuk jumlah edisi yang sangat kecil dan terbatas, yaitu sekitar sepuluh sampai dua puluh karya karena adanya tekanan alat press yang dengan cepat merusak kesan kabur yang sudah dibuat. Untuk mengatasi hal ini, penggunaan electro-plating atau pelapisan secara elektrik dengan bahan logam lain sudah dilakukan sejak abad ke-19 M yang digunakan untuk mengeraskan permukaan plat. Teknik drypoint pertama kali dilakukan oleh seorang seniman grafis dari Jerman Selatan pada abad ke-1 5 M yang mempunyai julukan Housebook Master. Semua karya yang dihasilkannya menggunakan, teknik drypoint.

4. Cetak Datar
Cetak datar adalah teknik mencetak, memperbanyak, memproduksi suatu gambar atau tulisan dengan menggunakan media cetakan yang mempunyai permukaan datar atau rata. Teknik cetak datar sekarang ini dapat dijumpai pada sistem mesin cetak dan teknik foto mekanik. Contoh cetak datar adalah kaca, karet (rubber), dan plastik.

5. Cetak Foto (Fotografi)
Cetak foto atau fotografi adalah seni grafis yang proses pembuatannya melalui pemotretan dengan kamera, pencucian film, dan pencetakan gambar foto. Teknik cetak afdruk untuk fotografi menggunakan bahan film, kertas foto, dan bahan cuci film. Alat yang digunakan cetak foto atau fotografi adalah kamera. Adapun teknik digital menggunakan bahan kertas dan tinta dengan alat kamera digital, komputer, dan printer.

Proposal Pengiriman Peserta Lomba Hadroh

Sanggar Model - Proposal Pengiriman peserta lomba hadroh Dalam rangka Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Yaumi Centre Kabupaten Tegal Tahun 2016 MTs Negeri Model Babakan Lebaksiu Kabupaten Tegal Tahun 201.

A. LATAR BELAKANG


Ekstrakurikuler Hadroh merupakan salah satu organisasi Seni Musik yang berkembang di kampus MTs Negeri Model Babakan Lebaksiu Tegal. Berbagai kegiatan dilakukan untuk mengembangkan bakat dan membentuk karakter anggota serta pesertanya. Diantaranya adalah latihan rutin, pementasan, regenerasi, serta kegiatan lain yang bersifat membentuk karakter peserta didik guna merangsang mereka memiliki kompetensi.

Salah satu cara untuk mengukur kemampuan organisasi (pengurus dan anggotanya) adalah dengan menciptakan kompetensi melalui ajang kompetisi yang sesuai dengan bidangnya. Hal ini juga termasuk bagian dari upaya pembinaan dan pengembangan generasi suatu organisasi dalam Ekstrakulikuler yang sifatnya sangat penting untuk dilaksanakan. Oleh karena itu, mengikuti lomba dijadikan sebagai salah satu program utama Ekstrakurikuler Hadroh MTs Negeri Model Babakan Lebaksiu Tegal.

Berdasarkan pada pemikiran tersebut, kami selaku pengurus Ekstrakurikuler Hadroh periode 2016 – 2017 bermaksud mengirimkan utusan dan sekaligus akan terlibat dalam Lomba Hadroh yang rencananya akan diselenggarakan di Gedung Yaumi Centre Kabupaten Tegal.

B. LANDASAN HUKUM

  1. Program Kerja Kesiswaan dan OSIS MTsN Model Babakan Lebaksiu 2016 – 2017;
  2. Program Kerja Ekstrakurikuler Hadroh Periode Tahun 2016 – 2017.

C. BENTUK KEGIATAN

Kegiatan utama yang akan diikuti adalah lomba yang diselenggarakan di Yaumi Centre. Meski demikian, sebagai bentuk uji coba atau gladi, kami akan berupaya mengikutsertakan terlebih dahulu Kontingen Hadroh MTsN Model Babakan Lebaksiu dalam kegiatan lomba yang diselenggarakan oleh SMA Negeri 2 Slawi.

Lomba yang akan diikuti pada dasarnya memiliki level tinggi karena bersaing dengan peserta dari kalangan bebas dan berpotensi besar bertemu group hadroh tigkat propinsi. Namun demikian, hal ini mempunyai nilai positif untuk mengangkat lebih tinggi kemampuan Group Hadroh MTsN Model Babakan Lebaksiu.

D. TUJUAN DAN MANFAAT KEGIATAN

  1. Sebagai bentuk upaya memberikan fasilitas kepada Peserta Ekstrakurikuler Hadroh dalam berekspresi, berkreasi, dan meraih prestasi;
  2. Membentuk jiwa berkompetisi bagi peserta Ekstrakurikuler Hadroh MTsN Model Babakan Lebaksiu Tegal;
  3. Meningkatkan kompetensi organisasi Ekstrakurikuler Hadroh;
  4. Sebagai media stimulan (pemberi semangat) peserta dalam mengikuti kegiatan Ekstrakurikuler Hadroh.

E. WAKTU DAN TEMPAT KEGIATAN


Keterangan Gladi  Pagelaran Pelaksanaan Lomba Hari
Hari Sabtu Minggu - Senin
Tanggal 29 Oktober 2016 19 – 20 Desember 2016
Tempat SMA Negeri 2 Slawi Gedung Yaumi Centre
Waktu Pukul 08.00 s/d selesai Pukul 08.00 s/d selesai

F. PESERTA LOMBA

(Terlampir)

G. RENCANA ANGGARAN BIAYA

(Terlampir)

H. PENUTUP

Melalui kegiatan Lomba Hadroh di level yang lebih tinggi, diharapkan mampu mendukung terwujudnya visi dan misi serta tujuan Madrasah. Oleh karena itu, kami menyusun proposal agar pelaksanaan kegiatannya dapat terkoordinir dan terlaksana dengan baik.

Besar harapan kami kepada semua pihak yang terkait dengan MTs Negeri Model Babakan Lebaksiu untuk berpartisipasi agar kegiatan lomba yang akan diikuti Peserta Ektrakurikuler Hadroh berhasil mencapai tujuan yang diharapkan dan mendapat berkah dari Allah SWT. Amien…

Demikian proposal Pengajuan Dana Pengiriman Peserta Lomba Hadroh ini kami buat, atas perhatiannya kami sampaikan terima kasih.

Tegal, Oktober 2016
Pembina Seni


Sri Kuncoro SP., S.H., S.Pd
NIP. – 
Waka Kesiswaan


Ahmad Zahid, S.Ag., M.Ed
NIP.196909201997031002

Mengetahui,
Kepala MTsN Model Babakan Lebaksiu


Drs. H. Mukhlasin, M.Pd
NIP. 196210041991031006

Menyusun Karya Tari Kontemporer

Sanggar Model - Karya tari gaya kontemporer dapat disusun menggunakan gerak tradisi yang sudah ada atau melalui pencarian gerak yang belum terpola sebelumnya. Perlu diperhatikan bahwa tari sebagai ekspresi seni menuntut kemampuan lebih dari sekedar merangkai gerak menjadi sebuah koreografi, melainkan wajib memiliki nilai estetis. Berikut cara menyusun karya tari.

A. Menentukan Gerak

Gerak adalah bahan baku utama tari. Untuk itu, sebelum membuat sebuah karya tari kita akan menentukan gerak. Gerak ini nantinya akan disusun menjadi tarian yang indah dipandang. Pertama-tama buatlah gerakan untuk tari tunggal. Jika dirasa sudah baik, kembangkan menjadi gerak tari berpasangan atau berkelompok. Dalam menyajikan sebuah tarian, perhatikan dan terapkan hal-hal berikut:
  1. Penguasaan materi gerak dan ekspresi yang akan ditarikan;
  2. Ketepatan gerak dengan iringan;
  3. Penguasaan ruang pentas;
  4. Rasa percaya diri.
Setelah gerak-gerak yang dimaksud telah terkumpul, barulah dirangkai menjadi tarian. Menyusun gerak yang baik adalah memadukan gerak maknawi dengan gerak murni, dirangkai sesuai dengan tema yang sudah ditentukan dan sudah mencakup arah gerak dan arah hadap.

B. Konsep Musik

Musik merupakan denyut nadi dalam sebuah tarian. Musik dan tari merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Dengan adanya musik dapat mengatur tempo dalam satu gerakan, memberikan suasana dalam tarian baik suasana sedih, gembira, tegang ataupun marah.
Tujuan pemilihan dan penggunaan musik dalam menyusun karya tari di antaranya sebagai berikut:
  1. Memberi irama (membantu mengatur waktu);
  2. Memberi ilustrasi atau gambaran suasana;
  3. Membantu mempertegas ekspresi gerak;
  4. Rangsangan bagi penari.
Elemen dasar dari tari adalah gerak dan ritme, sedangkan elemen dasar dari musik adalah nada ritme dan melodi. Sejak zaman prasejarah sampai sekarang dapat dikatakan di mana ada tari pasti ada musik. Musik dalam tari bukan hanya sekedar pengiring, tetapi musik adalah patner tari yang tidak boleh ditinggalkan. Musik dapat memberikan suatu irama yang selaras sehingga dapat membantu mengatur ritme atau hitungan dan dapat juga memberikan gambaran dalam ekspresi suatu gerak.

C. Kostum dan Properti

Kostum atau busana tari adalah busana/kostum atau semua kebutuhan sandang yang dikenakan pada tubuh penari di atas pentas yang sesuai dengan peranan yang dibawakan. Dalam menyusun karya tari, tata busana dalam tari haruslah sesuai dengan konsep garapan yang akan ditampilkan baik desain busana maupun warnanya. Adapun yang harus diperhatikan dalam penataan busana tari, antara lain sebagai berikut.
  1. Memerhatikan efek lampu serta penyusunan komposisi warna.
  2. Kemungkinan-kemungkinan terhadap kesesuaian gerak penari dengan karakter dan peranannya.
  3. Harus memperhitungkan jarak antara panggung dan penontonnya.
Selanjutnya dalam menyusun karya tari gaya kontemporer juga harus memilih properti yang tepat. Properti seni tari merupakan segala kelengkapan dan peralatan dalam penampilan atau peragaan menari. Properti dapat terbuat dari kain, kayu, besi, plastik, tembaga, atau kulit.
  1. Properti dari kain: selendang, sapu tangan, topi, dan pita.
  2. Properti dari kayu: tongkat, tombak, bambu runcing.
  3. Properti dari besi: pedang, tameng.
  4. Properti dari plastik: payung, tali.
  5. Properti dari tembaga: kalung, kelat bahu, cunduk mentul atau kembang goyang, tusuk konde.
  6. Properti dari kulit:sepatu, ikat pinggang, topi, jaket.
  7. Properti dari kertas atau bulu: kipas, payung.